Senin, 07 Januari 2013

Berita Tentang Virus Flu Burung Varian Baru


Gambar berita Tentang Flu Burung ini diambil dari sumber
(mediamakassar.com)



Jakarta: Kendati terbukti mutasi virus H5N1 bersifat ganas pada manusia, varian baru clade 2.3.2 belum mampu menular pada manusia.

Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kemenkes Rita Kusriastuti di Jakarta, Senin (7/1), mengungkapkan berdasarkan pengalaman, mutasi virus baru membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi agar dapat menyerang manusia.

Dia mencontohkan, virus H5N1 pada unggas yang terjadi pada 2003 di Indonesia baru dapat menular kemanusia pada 2005.

"Saat itu virus H5N1 butuh waktu dua tahun untuk dapat menjangkiti tubuh manusia. Saat ini virus H5N1 dengan clade baru masih diselidiki sifat penularannya," tutur Rita.

Virus flu burung H5N1 pada unggas telah bermutasi dari clade (sub-varian genetik) 2.1 menjadi clade 2.3.2. Varian baru ini terbukti cukup ganas dan menyebabkan kematian ratusan ribu itik yang sebelumnya kebal terhadap virus tersebut. Hingga 1 Januari 2013 virus flu burung dengan varian baru ini telah menyebar di 10 provinsi di negara kita dan menyebabkan kematian 160.453 itik.

Menurut Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatahan Lingkungkan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama, kasus penularan H5N1 clade baru pada manusia hanya terjadi di Bangladesh (3 kasus) dan China (5 kasus).

"Kasus di Bangladeh serangannya ringan, sedangkan di China tiga diantaranya meninggal," jelas Tjandra. (sumber : Metrotvnews.com ) .     



JAKARTA - Virus flu burung atau virus H5N1 mungkin sudah tidak seganas dahulu, dimana banyak menyebabkan kematian pada manusia. Namun, baru-baru ini justru muncul varian baru H5N1 yang ditengarai juga mampu mengakibatkan kematian pada orang yang terinfeksi. Virus flu burung clade baru tersebut menyerang ribuan itik di beberapa daerah di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes pun melakukan sejumlah tindakan.

"Kemenkes sudah mengirimkan surat edaran ke seluruh dinas kesehatan di Indonesia. Kita himbau semua dinas agar mengupayakan tindakan-tindakan pencegahan terkait adanya virus flu burung varian baru ini,"urai Wamenkes Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Kamis (3/1).

Ali Ghufron menuturkan, Kemenkes telah menyampaikan surat edaran tersebut sejak 10 hari lalu. Terkait upaya-upaya pencegahan, dia melanjutkan, diantaranya menyangkut pemberian vaksinasi. Yakni vaksinasi untuk hewan dan vaksinasi bagi manusia yang melakukan kontak dengan hewan khususnya jenis unggas. "Kalau vaksinasi untuk itik, dilakukan oleh Kementan. Tapi kita juga menjalin koordinasi dengan Kementan,"jelasnya.

Selain upaya pemberian vaksinasi, Ali Ghufron memaparkan, pemerintah juga meminta seluruh dinas dan juga masyarakat untuk melakukan surveillance aktif. Dimana, dilakukan deteksi jika terdapat manusia yang memilikir riwayat kontak dengan hewan jenis unggas, khususnya itik. "Jika orang yang memiliki riwayat itu lalu mulai timbul gejala flu, harus segera dilakukan tindakan cepat. Kalau perlu, dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut,"urainya.

Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu menuturkan, pihaknya telah menerima laporan adanya virus flu burung varian baru, sejak sekitar sebulan lalu. Begitu mendapat laporan, pemerintah segera melakukan sejumlah tindakan pencegahan. "Sekitar tiga atau empat minggu lalu, kita sudah menerima banyak laporan. Kita langsung bergerak. Kita menguhubungi WHO, dan pihak-pihak terkait untuk mengabarkan adanya virus baru tersebut. Intinya semua sudah dikoordinasikan,"tuturnya.

Meski begitu, Ali Ghufron menekankan, hingga saat ini belum ada laporan virus flu burung varian baru yang menulari manusia di Indonesia. Kematian terakhir akibat flu burung yang terjadi pada anak berusia empat tahun di Bogor, awal Desember lalu, diketahui karena infeksi virus flu burung clade yang lama yaitu clade 2.1.3. Namun, masyarakat harus tetap waspada, karena kasus penularan virus flu burung varian baru pada manusia, sudah terjadi di negara lain.

" Di China, dilaporkan ada satu kasus flu burung clade baru yang pasiennya meninggal dunia. Korban meninggal akibat flu burung clade baru itu juga ada di Hong Kong, serta di Bangladesh dimana pada tahun 2012 ada tiga orang meninggal karena tertular virus itu," imbuh Ali Ghufron.

Virus flu burung varian baru tersebut pertama kali muncul di daerah Brebes. Tidak lama, virus tersebut mulai menjarah daerah-daerah lain di pulau Jawa. Setidaknya sekitar 250 ribu unggas jenis itik di pulau Jawa mati. Kematian itik terbanyak terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Barat.

Perang melawan keberadaan varian baru virus H5N1 ini juga menjadi agenda Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Menristek Gusti Muhammad Hatta di Jakarta kemarin mengatakan, keberadaan virus baru ini sejatinya masih misterius.

"Diantara sejumlah ahli virus, masih terdapat dua pandangan berbeda," ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup itu. Gusti mengatakan jika ada sejumlah pakar yang menilai bahwa virus ini adalah varian baru dari virus H5N1. Selanjutnya ada kelompok pakar lainnya yang menganggap jika virus ini adalah benar-benar virus baru. Bukan masuk dalam keluarga besar H5N1.

Hatta mengatakan jika Kemenristek siap mendanai penelitian untuk menangkal penyebaran virus baru ini di Indonesia. Dia mengatakan jika pihaknya terus berkoordinasi dengan Kemenkes dan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk penelitian ini. Dia mengatakan jika ahli virus Indonesia sudah terlatih membentuk semacam virus tandingan untuk H5N1. "Jika ini benar virus baru, kita siap mengatasinya," ujarnya   (sumber : JPNN.com)